Tuesday, September 07, 2004

Menyatakan cinta dengan puisi

Puisi: Sebuah teknik utk menyatakan cinta.
(: Ditulis utk seminar FLP-Jepang, 13 maret 2004.)

Ketika berumur 27 tahun, menjelang kematiannya, Chairil, si binatang jalang, menulis sebuah lirik yang sangat menyentuh, rapi tapi penuh. Ketat namun menyengat. Diam sekaligus menggugah. Derai2 Cemara, begitu dia menberi nya judul. Ada baiknya kita menulis utuh lirik tersebut sebagai pintu kita mendiskusikan apa yg para ahli sastra menyebutnya puisi:

Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari jadi akan malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah lama bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah jauh dari cinta sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah

Sekali kita baca kwatrin yg rapi diatas, dan kita coba utk menangkap “pesan” ato “amanat” atau gampangnya “isi” yg hendak disampaikan Chairil, maka beberapa kata atau kalimat kunci akan dengan mudah kita dapat: bahwa hidup itu tidak tentu; bahwa hidup itu hanya menunda kematian. Bahwa, pada akhirnya banyak hal yg tidak kita mengerti, atau mustahil utk kita mengerti. Atau mungkin ada pesan yg lain lagi. Apakah itu yg hendak disampaikan Chairil? Bisa ya, bisa tidak. Wallahualam. Tapi, mari kita coba menyusun beberapa isi yang kita peras dari Derai-derai cemara itu dalam bentuk larik2, sehingga mirip dengan puisi, utk membuktikan bahwa paling tidak bukan hanya itu yg ingin disampaikan Chairil

Hidup itu tidak tentu
Ia hanya penundaan pada kematian
Karena pada akhirnya banyak hal
Yg tetap tidak akan kita mengerti.


Taruhlah tiga kali kita membacanya, maka kita akan bosan. Bukan hanya itu, kita jadi sadar, apa yg ingin disampaikan Chairil, kalo benar hanya itu yg hendak disampaikannya, adalah sekumpulan nasehat, atau slogan2 klise yg banyak kita temukan di petuah2 tua, atau buku2 agama.

Tapi coba kita baca lagi puisi Derai2 cemara yg original. Saya yakin, paling tidak kalau anda se-selera dg saya, anda tidak akan cepat bosan dengan puisi tersebut. Bahkan, pada setiap pembacaan kita merasa ada pengertian baru, ada suasana baru yang dibangkitkan. Kita merasa ada hal lain yang hendak disampaikan Chairil, sebuah suasana. Suasana kesepian yg intens tentang ketidakkuasaan. Individu/personal yg sedang gelisah, yg tak mengerti bagaimana harus menyerah. Dan perasaan yg overwhelming itu dia kontrol dg kekuatan batin yg tenang, yg diam, atau dalam bahasa jawanya “sumeleh”, yang menurut saya, justru kita dapatkan pada bait pertama dari Derai2 cemara. Justru, satu2nya bait yg paling sulit kita mengerti, karena memang jauh dari isi, atau amanah.

Sebelum kita menarik kesimpulan bahwa puisi itu bukan sekedar menyampaikan amanah, mari sekali lagi kita kutip salah satu puisi terbaik yang pernah ditulis Gunawan Mohammad: Kwatrin tentang sebuah poci

Pada keramik tanpa nama itu
Kembali kulihat wajahmu
Mataku belum tolol ternyata
Utk suatu yg tiada

Apa yg berharga pada tanah liat ini
Selain separoh ilusi
Sesuatu yg kelak retak
Dan kita membikinnya abadi.

Cobalah baca puisi ini sekali. Sekilas memang, tak ada pengertian yg “terang” kalau kita bandingkan dg puisi Derai2 cemara. Tapi justru itulah yg membuat saya pengen membacanya lagi. Ada yg terasa tertangkap walaupun tak lengkap. Sebuah suasana, atau musik. Sebuah gambaran global. Kita seperti melihat sebuah lukisan kubis Picasso, taruhlah Geuronica, yg mendorong kita utk melihatnya lebih dekat, dengan detil, yg membuat kita berhenti selama 15 menit di salah satu sudut Galleri. Tapi semakin kita mencoba utk mengerti detil2 dari lukisan itu, kita semakin tak mengerti apa yg hendak disampaikan Picasso. Tapi, ketika kita melihatnya lagi dari kejauhan, kita merasa mengerti sesuatu, dan itu mendorong kita sekali lagi utk kembali mengamatinya. Itulah yg mendorong saya utk membaca puisi itu sekali lagi, dan sekali lagi. Mirip kalau kita ketemu seorang gadis yg sulit kita mengerti, yg justru membuat kita pengen mengajaknya ke kafe utk kita dengarkan cerita2nya, yg justru akan membuat kita semakin bingung. (One should note, however, that any human female in fact belong to this criteria. )

Jadi menurut saya, puisi itu tidak sekedar menawarkan isi. Justru puisi yg terlalu jelas menyampaikan sesuatu, apalagi kalo sesuatu itu berupa pesan2 moral, akan cenderung jatuh ke kalimat2 klise, slogan2 yg sudah sering kita dengar, contoh gampannya adalah draft2 puisi yg pernah saya tulis. Atau di puisi2 sosial Rendra atau Taufik akhir2 ini tentang keadaan indonesia. Membaca puisi yg terang benderang seperti itu kita jadi pengen bertanya: mengapa harus ditulis dalam bentuk puisi. Tapi, lebih dari itu, puisi yg menurut saya enak dibaca adalah sekumppulan kalimat, yg membangkitkan suasana, yg menciptakan musik. Atau meminjam tulisan Chairil, kalimat2 yg ingin bercerita bahwa “ada yg tetap tak terucapkan”. Karena pada dasarnya puisi itu refleksi intens dari psikologis sang penulis, seorang individu, yg karenanya by no means beyond any comprehension.

Illustrasi lain bahwa puisi itu adalah suasana atau musik, selain perngertian. Misalkan anda jatuh cinta pada seseorang. Lalu anda ingin membuat sebuah surat pernyataan, aku cinta kamu. Sebagai seorang lelaki, yg ingin kelihatan serba jelas, anda, mungkin akan segera menulis di awal kalimat: Say, aku cinta kamu, sungguh (Lalu ditambah sedikit kalimat2 ancaman). Tapi, segera, setelah membaca kalimat diatas beberapa kali dan merenungkannya, anda akan segera sadar bahwa banyak sekali dari sisi perasaan kita yg memang tak terwakili oleh kalimat yg over definitive itu. Ada yg terasa kurang. Ada suasana yg hilang. Ada sesuatu yg impersonal, “aku” yg tak tersampaikan. Mengapa? karena perasaan itu memang sesuatu yg subtil, yg nondeterminative, uncertain, yg ambigu, labil dalam arti selalu gelisah, yg memberi tempat pada ironi utk hidup. Perasaan itu punya rasionalitas sendiri yg beda dengan rasionalitas logic atau rasionalitas material misalnya. (Utk yg tertarik dg usaha membahas subtilnya emosi dengan pendekatan matematika, bisa baca bukunya Roger Penrose: Shadows of the mind dan The emperor’s new mind. Tentu saja buku ini lebih diorientasikan ke fisikawan, ditulis dg bahasa yg membuat jidat berkerut, sebelum bosan. Penrose sendiri adalah salah satu representasi matematikawan abad ini, kususnya math. Phys. Beliau pembimbingnya S. Hawkings. Pendeknya, beliau berkesimpulan, bahwa diperlukan matematika yg lebih complex dari Quantum phys. Untuk mendiskripsikan perasaan.)

Sebaliknya, kalau kita memilih musik, atau misalnya lukisan utk mengungkapkan perasaan cinta kita itu daripada bahasa, kita mau tidak mau harus berani kehilangan sebagian besar dari porsi “pengertian/pesan” yg dalam konteks ini “aku cinta kamu”. Kita telah mendeformasi “cinta” ke bentuknya yg paling purba: musik. Kita menjadi binatang lagi, yg memakai musik utk memberi tahu kalau kita sedang birahi. Kita, kembali ke jaman batu. Pendeknya kita kehilangan kata.

Dua sisi kontras inilah yang menurut saya dijembatani oleh puisi. Puisi itu memakai “kata2”, yg akan merangsang sisi kiri otak kita, atau sisi verbal kepala kita, utk menikmatinya sebagai sebuah pengertian. Tapi disamping itu, puisi juga membangkitkan musik, lewat asosiasi2, ironi, kalimat2 yg ambigu, atau sekedar permainan bunyi, dan representasi2 dari uncertainties dari “hati”, yg akan ditangkap oleh sisi kanan otak kita. Hal yg terakhir ini dimungkinkan, karena nature:pendeknya puisi. Anda tentu tidak bisa membayangkan membaca kalimat2 yg “tak jelas” semacam “Kwatrin tentang sebuah poci” sepanjang novel Para Priyayi nya pak Kayam, misalnya. Tentu saja, ada puisi yg panjangnya tidak umum, seperti Pengakuan Pariyem nya Linus Suryadi, tapi harga yang harus dibayar, dia menjadi kalimat2 yg terang/jelas. Dia menjadi prosa lirik, mau tak mau.

Kembali kemasalah “mengungkapkan cinta” tadi, ada baiknya kita bahas dua buah puisi dibawah, yg ditulis oleh dua sastrawan2 terbaik kita.

Aku ingin

aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada apiyang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujanyang menjadikannya tiada

(Sapardi Joko Damono)


Belajar membaca

Kakiku luka
Luka kakiku
Kakiku lukakah
Lukakah kakiku
Kalau kakikau luka
Lukakukah kakikau
Kakiku luka
Lukakaukah kakiku
Kalau lukaku lukakau
Kakiku kakikaukah
Kakikaukah kakiku
Kakiku luka kaku
Kalau lukaku lukakau
Lukakakukakiku lukakakukakikaukah
Lukakakukakikaukah lukakakukakiku
(Sutardji Calzoum Bachri)

Di Aku ingin, Sapardi sadar, bahwa segala usaha utk menyampaikan “perasaan” secara utuh adalah mustahil. Tetapi dia tetap yakin, bahwa perasaan itu, atau cinta itu haruslah sesuatu yg sederhana. Sesuatu yg masuk dalam lingkup “harmoni alam”. Yg terakhir ini adalah alam mentalitas jawa, yg anti kekacauan-chaos, filsafat harmoni. Karenanya, dia memilih sesuatu yg diluar jangkauan pemahaman dia itu dg mengasosiakannya dg alam. Sebuah bahasa yg mengantarkan awan menjadi hujan.

Di kakiku luka, Soetardji bahkan lebih gila lagi. Kalimat “kakiku luka” telah mengalami im-personalisasi, ketika dituliskan. Ada individu yg lenyap, mau tak mau, ketika dia dituliskan. Dia menjadi kehilangan bunyi, kehilangan musik, kehilangan suasana, kehilangan ambiguitas-labilitas dari perasaan “kakiku luka”. Maka ketika perasaan ,atau personal itu mau diikutkan-dihidupkan lagi, sisi2 uncertainties dari perasaan itu juga harus ditulis. Jadilah puisi tersebut, yg berusaha membangkitkan subtilitas lewat permainan bunyi. Yang berusaha mengatakan, ka—ki—ku—lu—ka. Anda, misalnya bisa membuat surat cinta dg mengganti kata2 kunci kakiku luka dg aku cinta kamu.


Tema versus teknik: phenomena versus bahasa

Fisika Newton (fisika klasik) lahir, setelah Newton menemukan matematika baru yg disebut differential. Fisika Quantum (fisika modern) lahir, setelah di matematika dibuat bahasa baru: Linear operator. Dua fisika ini menjelaskan penomena alam yg tentu saja satu, tapi memberikan pengertian yg berbeda. Jadi, kalo anda percaya dg saya (jg n percaya!!), phenomena itu tak berarti apa2 tanpa bahasa. Dg kata lain, pengertian (meaning) dari penomena itu “language dependent”. Disinilah kita lihat “kekuasaan/kekuatan” bahasa. Dg kata lain teknik/bahasa itu menguasai tema. Ini tentu saja sangat berbahaya. Karena ini berarti “cinta” yg hendak anda sampaikan pada idaman anda, itu tergantung dari “teknik/bahasa” yang anda pakai. Dan karena bahasa itu selalu dalam kekuasaan manusia, maka phenomena cinta yg kelihatan universal itupun mendapat pengertian ya macam2 sesuai dg bahasa yg dipakai.

Begitu pula dengan puisi. Kalo kita lihat, tema2 puisi yg pernah ditulis manusia itu ya itu2 saja: kesepian, angan2, ironi dll. Walaupun begitu, orang tidak bosan menulis puisi dengan tema yg itu2 saja. Bahkan disetiap puisi kita selalu mendapatkan pengertian/suasana baru tentang tema yg sama.

Karenanya, selain membahayakan, kekuasaan bahasa atas penomena ini jg menyenangkan (paling tidak buat saya). Pertama, karena kita jadi berkuasa penuh dg arti kejadian2 yg kita lihat. Fact is a matter of construction. Phenomena memang satu, tapi “kenyataan” itu human construction (via languange) atau kasarnya artificial. Meaning is to be attached, and not to be observed as commonly believed. Inilah yg lalu melahirkan apa yg disebut “fiksi”. Ia kita sebut fiksi karena kita me-marginalkannya dg meaning2 yg “dg sengaja” kita sebut non-fiksi. Padahal yg membedakan keduanya hanya bahasa, yg kita pakai utk mendiskripsikannhya. Dan padahal bahasa itu buatan manusia. Misalnya anda punya boneka kesukaan yg bisa mengerti perasaan anda. Pernyataan ini tentu saja fiksi, kalo bahasa yg kita pakai adalah bahasa nonfiksi: rasionalitas logic. Dan vice versa.

Berbeda dengan rasionalitas logic yg ketat dengan aturan2, rasionalitas emosi sangat amat longgar. Inilah yg membuat perasaan jadi liar, chaotic. Dia memperbolehkan ironi hidup dalam satu ruang. Dia memperbolehkan kita utk mendeformasi ingatan, mempermainkannya dg memberinya arti2 baru sesuai dg kehendak kita, atau bahkan menertawakannya (Sejujurnya, inilah motiv utama saya menulis puisi). Dia tak dibatasi pemisahan2 past, present, ataupun future. Memakai bahasa non-fiksi, kita menyebutnya sebagai ruang imaginasi. Dia memperbolehkan kita mencintai siapapun.

Yg menarik adalah, ruang inilah menurut saya yg menentukan arah sejarah. Seperti ungkapan yg terkenal: angan2/imaginasi memperpanjang dunia peradaban. Pesawat terbang, misalnya itu pertama kali “ada” dalam ruang imaginasi pelukis Leonardo da Vinci. Robot masuk dalam “ninshiki” orang2 jepang itu dalam bentuk kartun. Kalau Hegel bilang bahwa sejarah itu hasil dari dialektika (rasional) logic dan K. Marx bilang kalau sejarang itu hasil dialektika (rasional) materi (dialektika ekonomi), saya cenderung percaya Freud, bahwa dialektika sejarah itu berlangsung dalam ruang imaginasi, ruang ketidaksadaran manusia.

Ruang ini adalah ruangnya para pemuda. Anak2. Ruang yg sangat dicintai sang Chairil muda, karena memperbolehkannya hidup 1000 tahun lagi. Ruang yg memperbolehkan kita utk meloncat kesana kemari tanpa perlu kawatir utk terbentur tembok2 sejarah. Perbolehkan saya mengutip keliaran ruang imaginasi Chairil itu utk mengakiri tulisan ini.

Aku

Kalau sampai waktuku'
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari

BerlariHingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Selamat menulis surat cinta.

(Tulisan diatas saya buat dg tergesa2—krn lain dan satu hal, tanpa referensi secukupnya. Tulisan ini bisa dibaca dari bawah keatas-- secara tematik. Utk yg masih merasa muda, urutan diatas sudah pas. Utk yg merasa sudah tua saya anjurkan baca dari bawah. Saya sendiri lebih suka membacanya dari bawah.)

http://mns2.c.u-tokyo.ac.jp/~agungby/Lirik.htm

Peringatan 1000 Hari Penyair Linus

Peringatan 1.000 Hari Penyair Linus Suryadi Ag

Sleman, Kompas - Tidak terasa, sudah 1.000 hari penyair Linus Suryadi Ag meninggal dunia, tepatnya 31 Juli 1999 silam. Sekelompok seniman dan masyarakat Kadisobo, Kabupaten Sleman Yogyakarta, Rabu (24/4) malam melaksanakan doa bersama, dan diisi dengan acara pentas Romo "Petruk" Kuntara Wiryamartana, serta pembacaan puisi sejumlah karya almarhum oleh Landung R Simatupang, sahabatnya.

Peringatan 1.000 hari meninggalnya, diisi doa dan pertujukan wayang Petruk oleh Romo Kuntara, diselingi pembahasan oleh Romo Budi Subanar, serta pembacaan tiga puisi Linus, dalam suasana kekeluargaan dan humor.
Acara religius dan seni ini dihadiri pula sejumlah budayawan dan kerabat dekat Linus antara lain budayawan Dr Bakdi Soemanto, Dr Sindhunata, Ashadi Siregar, Dr Hotman Siahaan, dan lain-lain.

Diperoleh informasi dari Bambang Suryanto, adik kandung Linus Suryadi, menjelang meninggalnya, sang penyair sedang menyelesaikan tiga fragmen epos Ramayana, berjudul Dewi Anjani di Sendang Grastina, Dewi Anjani di Pinggir Telaga Madirda, dan Sugriwa di Pedepokan Grastina. Pendekatan yang dilakukan almarhum, sama dengan karya monumentalnya, Pengakuan Pariyem, yaitu prosa lirik.

Berkas naskah fragmen yang diketik komputer dan lusuh ditunjukkan Bambang Suryanto, namun karena ketiga fragmen belum semuanya rampung dikerjakan, menyulitkan penggabungannya secara utuh sebagai sebuah buku.
Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Yogyakarta 10-11 Februari 1999 pernah mempergelarkan pembacaan fragmen Dewi Anjani, oleh Linus Suryadi.

Dewi Anjani, adalah sulung dari tiga kakak-beradik Subali dan Sugriwa, anak Resi Gautama dan Dewi Windradi. Ketiga anak mendapat kutuk dari ayahnya karena berebut Cupu Manik, dan berubah wujud seperti kera. Anjani, ibu dari Hanoman si kera sakti dalam tokoh Ramayana, menjadi pilihan Linus, "Seperti biasa Mas Linus itu selalu menokohkan wanita. Kalau Pariyem itu konteksnya dengan kehidupan perempuan Jawa melarat, Dewi Anjani dipilih untuk menyindir kekinian yang lebih mementingkan raga daripada rupa," kata Bambang.

Dewi Anjani, seorang perempuan cantik dalam cerita Ramayana dengan tangan dan wajah yang berbulu seperti kera, namun badannya tetap molek sehingga seorang Batara Guru pun tertarik dan akhirnya melahirkan Anoman. Sekarang ini hal itulah yang terjadi, para wanita dengan bermacam cara membentuk tubuhnya dengan body language (BL) atau fitness, karena laki-laki itu kan banyak yang tidak melihat wajahnya, yang penting badannya, tambah Bambang.

Seperti pengarang Sindhunata yang lebih dulu menggarap epos Ramayana dengan judul Anak Bajang Menggiring Angin, Linus dalam Dewi Anjani berupaya memberi tafsir. Tiga fragmen itu jika disatukan bisa menjadi sekitar 110 halaman, dan layak untuk diterbitkan sebagai karya terakhir Linus Suryadi yang meninggal di RS Panti Rapih Yogyakarta. (sig)

PENTAS Angan-angan Khas Jawa

PENTAS Angan-angan Khas Jawa

Linus Suryadi AG menampilkan karya terbarunya, Kisah Dewi Anjani. Terkesan ada eksploitasi terhadap perempuan.

TEPAT pukul delapan malam, tujuh lelaki berpakaian tradisional Jawa memasuki panggung, lalu duduk di antara perangkat gamelan. Mereka adalah para niyaga (penabuh gamelan). Kemudian muncul perempuan pesinden, duduk di antara mereka. Pesinden itu, Tuminingsih, juga berkostum tradisi Jawa. Tetapi, agak berbeda dengan pesinden biasa, ia mengenakan kain, dengan kemben, tanpa baju, dan rambut tergerai. Mereka adalah kelompok gamelan Nyai Kopek pimpinan Drs. Surono, dosen Institut Seni Indonesia. Penyair Linus Suryadi AG, 48 tahun, mengawali penampilannya di Gedung Lembaga Indonesia-Prancis, Yogyakarta, itu dengan bercerita tentang Romo Mangunwijaya, penulis novel Burung-burung Manyar, yang wafat sehari sebelumnya (lihat: Obituari). Linus menuturkan gaya Romo Mangun ketika menggambarkan dada perempuan. Sesudah itu, ia keluar panggung.

Pembaca sajak bagian pertama, Erythrina Baskorowati, muncul, mengenakan kostum mirip pesinden tadi.
Set panggung (dikerjakan oleh Teater Garasi) tampak dramatik. Letak instrumen gamelan dan pembaca sajak terpisah jauh, dan menimbulkan kesan berseberangan. Latarnya semacam gundukan -mungkin pegunungan yang tampak dari jauh, pada malam hari. Ada banyak lampu kecil, digantungkan di beberapa tempat, menimbulkan kesan seperti lampu minyak. Ada suara pedesaan. Dan memang, setting yang dilukiskan dalam sajak panjang Kisah Dewi Anjani yang dipentaskan selama dua malam (10-11 Februari) itu mencoba menggambarkan sebuah padepokan (bagian I), dan kehidupan di hutan di sekeliling Telaga Madirda (bagian II). Puisi yang dibacakan Linus, seperti karya sebelumnya, Pengakuan Pariyem, bercorak prosa lirik. Dengan kata lain, puisi itu semacam sebuah dongeng kreasi baru tentang seorang perempuan, Dewi Anjani namanya, putri sulung seorang pendeta terkenal, Resi Gutama. Sebelum Erythrina Baskorowati memulai pembacaannya, dengan gaya Jawa yang medhok, lebih dahulu musik gamelan menyajikan gending-gending, dan sang pesinden melantunkan tembang yang indah. Sajak bagian pertama berkisah tentang situasi di Padepokan Grastina. Seperti halnya Pengakuan Pariyem, puisi Linus menunjukkan bahwa sang penyair adalah penulis lirik piawai. Dengan menggunakan Dewi Anjani sebagai narator, dikisahkanlah kehidupan di padepokan itu, yang tak bergeming karena berbagai gejolak sosial. Tampak, tokoh-tokoh yang dilukiskan Linus dengan lanskap alamnya tak ada urusan dengan reformasi, krismon, atau berbagai perubahan masyarakat yang cepat, yang tengah terjadi. Sebuah potret angan-angan khas Jawa. Prosa lirik Dewi Anjani itu mengalir, hampir tanpa beban. Seperti Pengakuan Pariyem yang dapat dikatakan ensiklopedi kebudayaan "Jawa", Kisah Dewi Anjani juga merupakan sajian pengetahuan tentang berbagai jenis makanan khas Jawa, sambal, kudapan, jamu Jawa (gendong), jenis-jenis pohonan, daun-daunan yang bisa dimasak, dan lain-lain.

Jika dalam sajak muncul kata-kata yang bisa dikategorikan "sangat jorok" untuk diucapkan di depan umum, menemukan alasan pembenarnya bukan pada setting yang di luar jagat priayi (serba halus) -bukan seperti yang dikatakan Linus pada sebuah koran, melainkan, menurut saya, karena yang dilukiskan Linus adalah realita ajaib (magic realism) yang ada dalam alam pikir David Copperfield, yakni suatu jagat sulapan. Prosa lirik Anjani itu barangkali mirip sebuah novel berjudul Alice in Wonderland, atau kisah Angling Darma yang memungkinkan orang bisa paham bahasa binatang dan keajaiban lainnya. Dengan singkat, pentas puisi prosa lirik yang diproduksi oleh Lembaga Indonesia-Prancis Yogyakarta itu memiliki daya tarik dan kekuatannya sendiri. Kostum yang dikenakan para wanita yang mirip perempuan Bali pada abad lalu itu mempertegas gambaran jagat yang ajaib tersebut. Lebih dari itu, di tengah pembacaan, muncul penari, Jeanny Park dari Amerika, yang menyajikan karya ciptanya sendiri.

Dengan tarian gaya keraton yang sangat luwes, Jeanny melukiskan hubungan seks antara Batara Siwa dan Dewi Anjani di Telaga Madirda. Tangannya yang indah, tubuhnya yang semampai, menghadirkan bagaimana hubungan seks itu terjadi, dari melepas konde, membiarkan rambut tergerai, membuka kain, dan seterusnya. Sebagai sebuah pertunjukan, tarian yang disajikan Jeanny Park itu puncaknya. Sebab, tarian itu tidak berposisi sebagai ilustrasi pembacaan puisi, tetapi muncul sendiri, di center-front-stage. Sehingga, tarian itu menjadi fokus tontonan. Ia menggeser posisi Linus ke tepi, dan bahkan menggeser posisi sastranya sendiri. Tarian itu mengingatkan saya pada pose Dewi Soekarno dalam foto-foto artistik yang mengekspos keindahan tubuhnya.

Namun, sangat perlu diberi catatan, dari pentas itu muncul kesan: penggunaan perempuan secara berlebihan untuk kepentingan laki-laki. Memang, seperti sudah disebutkan, setting-nya di desa atau bahkan di hutan antah berantah. Namun, pertunjukan itu toh hadir di sini, sekarang, ketika perempuan makin peka dan gampang tanggap bahwa ia dieksploitasi. Pada titik ini, tampak kekurangan pokok pertunjukan itu adalah tiadanya seorang "sutradara" yang mampu menerjemahkan teks dan publik, yang dalam sajian pertunjukannya akan merajut suatu wacana yang dapat menghindari suasana yang kurang enak. Bakdi Soemanto Pengamat seni budaya, tinggal di Yogyakarta.

GATRA Nomor 14/V, 20 Februari 1999

Pariyem di layar kaca

Ya. Pariyem, seorang babu yang akhirnya menjadi menantu Kanjeng Cokro Sentono, sebentar lagi akan tampil di layar kaca. Pengakuan Pariyem, demikian judul sinetron ini, diangkat dari sebuah prosa lirik berjudul sama, karangan Linus Suryadi Agustinus, sekitar 1978-1980. Prosa ini telah diterjemahkan dalam tiga bahasa: Inggris, Belanda, dan Prancis.

Aktivitas jurnalismenya membuat Linus dikenal di kalangan pers. Ia sempat bekerja buat harian Bernas, selain bergabung di Persada Studi Klub, Yogyakarta, pada 1970, bersama penyair Umbu Landu Paranggi. Linus mengasah kemampuan menulisnya dengan mengikuti program penulisan di Universitas Iowa, Amerika, pada 1982.
Kesenimanan Linus boleh jadi yang membuat karyanya terutama Pengakuan Pariyem sempat mengundang kontroversi. Butet Kertarejasa, seniman asal Yogyakarta, mengungkapkan kontroversi antara lain menyangkut soal seks, pelecehan agama, serta banyaknya penggunaan bahasa Jawa. Bobot terbesar soal seks.

Pariyem, tokoh utama dalam buku ini blak-blakan menceritakan pengalaman seksnya dengan Raden Bagus Ario Atmojo, anak Kanjeng Cokro Sentono. Katanya, "Selagi saya membersihkan kamarnya, tiba-tiba saya direnggut dari belakang. O, Allah, saya kaget setengah mati, Mas .... Tapi saya pasrah saja, kok. Saya lega lila."
Maka, tak usah heran bila ada yang memandang prosa lirik ini tak lebih dari pengakuan seorang pelacur. "Linus pernah bercerita pada saya, karyanya itu ada yang menilai bukan sastra Jawa, tapi pengakuan pelacur," ujar Landung Simatupang, sahabat Linus, seraya mengungkapkan, dirinya pun sempat terperangah saat pertama kali membacanya.

Sebesar apa sesungguhnya kontroversi prosa tersebut? Pemirsa televisi agaknya bisa melihat sendiri sinetronnya. Sinetron Pengakuan Pariyem diproduksi Prima Entertainment dengan sutradara Sam Sarumpaet. Nama-nama yang tidak asing di dunia perfilman nasional turut membintanginya. Niniek L. Karim memerankan Ayu, Adi Kurdi sebagai Kanjeng, Mathias Muchus sebagai Paiman, Landung Simatupang sebagai Suwito, dan Donny Kesuma sebagai Kliwon.

Pariyem sendiri diperankan Dewi Rahmawati, mahasiswa dari Yogyakarta. Ia berhasil menyisihkan bintang film Ria Irawan dan penyanyi Denada. "Pariyem ini kan ada di setiap kepala pembacanya. Ketika saya letakkan Ria Irawan atau Denada, orang mau tak mau masih melihat mereka sebagai pribadi. Tetapi ketika saya meletakkan pemain baru yang sama sekali belum dikenal, maka identifikasi Pariyem itu akan menjadi utuh," tutur Sarumpaet.
Sarumpaet yang juga dosen Institut Kesenian Jakarta mengungkapkan kesulitannya membuat sinetron yang ceritanya diambil dari buku. "Siapa pun harus berhati-hati. Sikap kita terhadap pengarangnya tak boleh sembarangan," katanya.

Ia menilai, sangat tepat bila produser Prima Entertainment, Leo Sutanto, menunjuk wartawan Seno Gumira Ajidarma sebagai penulis skenario. "Siapa pun tahu kualitas Seno," kata Sarumpaet.
Rencananya sinetron ini terbagi dari empat episode. Per episode ditambah iklan berdurasi 90 menit. Pada episode pertama, cerita sepenuhnya berasal dari buku Pengakuan Pariyem. Baru pada episode berikutnya, penafsiran Seno Ajidarma masuk. "Pada bagian empat, kita akan melihat satu kesimpulan yang murni ditulis Seno. Bagian yang sebenarnya tak ada dalam buku Pengakuan Pariyem," kata Sarumpaet. Ia belum lagi tahu di stasiun televisi mana sinetronnya bakal diputar.

"Skenarionya sangat sadar bagaimana mempertahankan 'kelinusan' Pengakuan Pariyem ini," begitu komentar Simatupang.
Kemampuan Seno Ajidarma juga tak diragukan oleh Bakdi Sumanto, mantan ketua Dewan Kesenian Yogyakarta. Toh ia merasa perlu mengingatkan, Pengakuan Pariyem bukanlah novel yang di dalamnya memuat deskripsi keadaan, dialog, dan konflik. Prosa ini adalah sesuatu yang literer, lebih sebagai ungkapan pengalaman batin.
Pendapat lain datang dari Kertarejasa. Ia mengambil Roro Mendut karya Y.B. Mangunwijaya yang diangkat sutradara Ami Priyono ke layar lebar. Pesan-pesan sastrawi dari penulis tak muncul. "Padahal pesannya waktu itu sudah isu gender. Romo Mangun pernah berkata bahwa Roro Mendut itu mempunyai semangat juang pada kesetaraan gender. Dan itu, tak tergambar pada film," ujarnya.

Apapun itu Linus tak sempat menikmati karyanya di layar kaca. Ia meninggal pada 1999 dalam usia 48 tahun. Jasadnya dikubur, berpakaian Jawa lengkap, berblangkon, dan bersurjan merah bara. ***